Kekuasaan dan Wewenang

Kekuasaan dapat mempunyai peranan yang dapat menentukan nasib berjuta-juta orang. Oleh karena itu kekuasaan sangat menarik perhatian para ahli ilmu pengetahuan masyarakat.
Adanya kekuasaan dan wewenang dalam masyarakat merupakan gejala yang wajar. Walaupun wujudnya kadang-kadang tidak di sukai oleh masyarakat itu sendiri, karena sifatnya yang abnormal menurut pandangan masyarakat yang bersangkutan.
Sesuai sifatnya sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi tidak memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang baik atau yang buruk. Sosiologi mengakui kekuasaan sebagai unsur yang sangat penting bagi kehidupan suatu masyarakat. Penilaian baik atau buruk senantiasa harus diukur dengan kegunaannya untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditentukan atau yang disadari masyarakat.
Adanya kekuasaan cendrung tergantung dari hubungan antara pihak yang memiliki kemampuan untuk melancarkan pengaruh dengan pihak lain yang menerima pengaruh itu, rela atau terpaksa.
Sedangkan wewenang adalah kekuasaan yang ada pada seseorang atau kelompok orang, yang mempunyai dukungan atau mendapat pengakuan dari masyarakat. Karena memerlukan pengakuan dari masyarakat, maka didalam masyarakat yang sudah komplekssusunannya dan sudah mengenal pembagian kerja yang terinci, wewenang biasanya terbatas pada hal-hal yang diliputinya.adanya wewenang hanya dapat efektif apabila didukung dengan kekuasaan yang nyata.
1. Kekuasaan
A. Hakikat Kekuasaan Dan Sumbernya
Dalam setiap hubungan antara manusia maupun antar kelompok sosial selalu tersimpul pengertian-pengertian kekuasaan dan wewenang.
Kekuasaan mencakup kemampuan untuk memerintah agar yang di perintah patuh dan juga untuk memberi keputusan-keputusan yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi tindakan pihak-pihak lain.
Akan tetapi pada umumnya kekuasaan yang tertinggi berada pada organisasi tertinggi yang dinamakan Negara. Golongan yang berkuasa tak mungkin bertahan terus tanpa dukungan oleh masyarakat. Oleh karena itu golongan tersebut senantiasa untuk membenarkan kekuasaannya terhadap masyarakatsebagai kekuasaan yang legal dan baik untuk masyarakat yang bersangkutan.
B. Unsur-Unsur Saluran Kekuasaan Dan Dimensinya
Kekuasaan yang dapat dijumpai pada interaksi sosial antar manusia maupun antar kelompok mempunyai beberapa unsur pokok yaitu:
1. Rasa takut
Perasaan takut pada seseorang ( yang merupakan penguasa, misalnya ) minimbulkan suatu kepatuhan terhadap segala kemauan dan tindakan orang yang ditakuti itu. Rasa takut merupakan gejala universal yang terdapat dimana-mana dan biasanya dipergunakan sebaik-baiknya dalam masyarakat yang mempunyai pemerintahan oteriter.
2. Rasa cinta
Rasa cinta pada umumnya menghasilkan perbuatan-perbuatan positif. Orang-orang lain bertindak sesuai kekuasaan orang yang berkuasa,untuk menyenangkan semua pihak.
3. Kepercayaan
Kepercayaan dapat timbul sebagai hasil hubungan langsung antara dua orang atau lebih yang bersifat asosiatif. Soal kepercayaan sangat penting demi kelanggengan suatu kekuasaan.
4. Pemujaan
Sistem kepercayaan mungkin dapat disangkal oleh orang orang lain.akan tetapi dalam sistem pemujaan, seseorang atau sekelompok orang-orang yang memegang kekuasaan, mempunyai dasar pemujaan dari orang lain. Akibatnya adalah segala tindakan penguasa dibenarkan atau setidaknya dianggap benar.
C. Cara-Cara Mempertahankan Kekuasaan

Setiap penguasa yang telah memegang kekuasaan di dalam masyarakat, demi stabilnya masyarakat tersebut, akan berusaha untuk mempertahankannya, cara-cara atau usaha-usaha yang dapat dilakukannya antara lain:
a) Dengan cara menghilangkan segenap peraturan yang lama terutama bidang politik, yang merugikan kedudukan penguasa. Dan diganti dengan peraturan-peraturan yang lebih menguntungkan penguasa.
b) Mengadakan sistem-sistem kepercayaan yang akan dapat memperkokoh kedudukan penguasa atau golongannya.meliputi seperti agama, ideology dan lain-lain.
c) Pelaksanaan administrasi dan birokrasi yang baik.
d) Mengadakan konsolidasi horizontal dan vertical.
D. Beberapa Bentuk Lapisan Kekuasaan
Bentuk-bentuk kekuasaan didunia ini beraneka ragam macam dengan masing-masing polanya. Namun pola tersebut akan selalu muncul atas dasar pola lama, yang berlaku sebelumnya.kekuasaan selalu berarti suatu sistem lapisan bertingkat menurut Mac Iver ada tiga pola umum sistem lapisan kekuasaan atau piramida kekuasaan yaitu:
 Tipe pertama (tipe kata) adalah sistem lapisan kekuasaan dengan garis pemisah yang tegas dan kaku.tipe semacam ini biasanya dijumpai pada masyarakat berkasta, dimana hampir tak terjadi gerakan sosial vertical.
 Tipe yang kedua (tipe oligarkis) masih mempunyai garis pemisah yang tegas.akan tetapi dasar pembedaan kelas-kelas sosial ditentukan oleh kebudayaan masyarakat, terutama pada kesempatan yang diberikan kepada para warga untuk memperoleh kekuasaan-kekuasaan tertentu. Bedanya dengan tipe yang pertama adalah walaupun keduduksn para warga pada tipe kedua masih didasarkan kelahiran tetapi individu masih diberi kesempatan untuk naik lapisan.
 Tipe yang ketiga (tipe demokratis) menunjukan kenyataan akan adanya garis pemisah antara lapisan yang sifatnya mobil sekali. Kelahiran tidak menentukan seseorang, yang terpenting adalah kemampuan dan kadang-kadang juga factor keberuntungan.
2. Wewenang
Sebagai mana halnya dengan kekuasaan, maka wewenang juga dapat dijumpai di mana-mana, walaupun tidak selamanya kekuasaan dan wewenang berada disatu tangan. Dengan wewenang dimaksudkan sebagai suatu hak yang telah ditetapkan dalam tata tertib sosial untuk menetapkan kebijaksanaan, menentukan keputusan-keputusan mengenai masalah-masalah penting dan untuk menyelesaikan pertentangan-pertentangan.
Dipandang dari sudut masyarakat, maka kekuasaan tanpa wewenang, merupakan kekuatan yang tidak sah.kekuasaan harus mendapatkan pengakuan dan pengesahan dari masyarakat agar menjadi suatu weenang.
Wewenang memiliki beberapa bentuk, antara lain
1. Wewenang Kharismatik, Tradisional dan Rasional (Legal)
Perbedaan antara wewenang kharismatik, tradisional dan rasional dikemukakan oleh Max weber. Perbedaan tersebut didasarkan pada hubungan antara tindakan dan dasar hukum yang berlaku. Didalam membicarakan ketiga weenang tadi Max Weber memperhatikan sifat dasar wewenang tersebut karena itulah yang menentukan kedudukan penguasa yang mempunyai wewenang tersebut.
Wewenang kharismatik merupakan wewenang yang didasarkan pada charisma, yaitu suatu kemampuan khusus yang ada pada diri seseorang, kemampuan tersebut melekat pada diri seseorang karena suatu anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Kemampuan tersebut atas dasar kepercayaan dan pemujaan.
Wewenang kharismatis tersebut dapat tetap bertahan selama dapat dibuktikan keampuhannya bagi seluruh masyarakat. Contohnya Nabi, para rasul, penguasa-penguasa terkemuka dalam sejarah, dan seterusnya. Wewenang kharismatik tidak diatur oleh khaidah-khaidah, baik yang tradisional maupun rasional. Sifatnya cenderung irasional.
Wewenang tradisional dapat dipunyai seseorang maupun sekelompok orang. Wewenang ini didapat bukan karena mereka mempunyai kemampuan-kemampuan khusus seperti pada wewenang kharismatik. Akan tetapi karena kelompok tadi memiliki kekuasaan dan wewenang yang telah melembaga dan bahkan menjiwai masyarakat.
Pada masyarakat dimana penguasa mempunyai wewenang tradisional, tidak ada pembatasan yang tegas antara wewenang dengan kemampuan-kemampuan pribadi seseorang. Dalam hal ini seringkali hubungan kekeluargaan memegang peranan penting di dalam pelaksanaan wewenang. Dengan demikian, wewenang yang menyandarkan diri pada tradisi, harus juga menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kemasyarakatan.
Wewenang rasional atau legal adalah wewenang yang disandarkan pada sistem hukum yang berlaku dalam masyarakat.sistem hukum di sini di fahami sebagai khaidah-khaidah yang telah diakui dan ditaati masyarakat, bahkan yang telah diperkuat oleh Negara. Pada wewenang yang didasari oleh sistem hukum harus dilihat juga apakah sistem hukumnya bersandar pada tradisi, agama atau lain-lain factor. Gunanya adalah supaya orang-orang yang memegang kekuasaan tadi akan dapat menyelenggarakan sesuai dengan sesuai dengan keinginan masyarakat.
2. Wewenang Resmi dan Tidak Resmi
Di dalam masyarakat akan dapat ditemui aneka macam bentuk kelompok. Dalam kehidupan kelompok-kelompok tadi seringkali timbul masalah tentang derajat resmi suatu wewenang yang berlaku di dalam kelompok-kelompok kecil disebut sebagai wewenang tidak resmi karena bersifat spontan, situasional dan didasarkan pada factor saling mengenal.
Wewenang resmi sifatnya sistematis, diperhitungkan dan rasional. Biasanya wewenang tersebut dapat dijumpai pada kelompok-kelompok besar yang memerlukan aturan-aturan tata tertib yang tegas dan bersifat tetap. Didalam kelompok tadi, karena banyaknya anggota biasanya hak dan kewajiban para anggotanya, kedudukan serta peranan, siapa-siapa yang menetapkan kebijaksanaan dan siapa pelaksananya, dan seterusnya ditentukan dengan tegas. Walau demikian, dalam kelompok-kelompok besar dengan wewenang resmi tersebut, mungkin saja ada wewenang yang tidak resmi. Contohnya dapat dilihat pada sekretaris direktur. Ia tidak punya wewenang tidak resmi yang besar.
3. Wewenang Pribadi dan Teritorial
Pembedaan antara wewenang pribadi dengan territorial sebenarnya timbul dari sifat dan dasar kelompok-kelompok tersebut mungkin timbul karena factor ikatan darah, atau mungkin juga karena factor ikatan tempat tinggal, atau karena gabungan ke dua factor tersbut. Seperti marga, belah dan seterusnya.
Wewenang pribadi sangat tergantung pada solideritas antara anggota-anggota kelompok, dan disini unsur kebersammaan sangat memegang peran. Para individu diangap lebih banyak memiliki kewajiban dari pada hak. Apabila bentuk wewenang ini dihubungkan dengan ajaran Max Weber, maka wewenang pribadi lebih didasarkan pada tradisi dari pada peraturan-peraturan. Juga mungkin didasarkan pada charisma seseorang.
Pada wewenang territorial, wilayang tempat tinggal memegang peranan yang sangat penting. Pada kelompok-kelompok territorial unsur keberasamaan cendrung berkurang, karena desakan factor-faktor individualisme. Pada wewenang territorial ada kecendrungan untuk mengadakan sentralisasi wewenang yang ada kemungkinan hubungan langsung dengan para warga kelompok. Walaupun disini dijelaskan adanya perbedaan antara kedua wewenang tersebut tapi dalam kenyataannya kedua wewenang tersebut dapat saja hidup berdampingan.
4. Wewenang Terbatas dan Menyeluruh
Suatu dimensi lain dari wewenang adalah pembedaan antara wewenag terbatas dan wewenang menyeluruh. Apabila dibicarakan tentang wewenang terbatas, maka maksudnya adalah wewenang tidak mencakup semua sektor atau bidang kehidupan.akan tetapi hanya terbatas pada salah satu sector saja. Contohnya seorang jaksa yang hanya berwenang untuk menuntut seseorang yang melakukan tindak pidana mewakili Negara dan masyarakat tetapi tidak berwenang mengadilinya.
Suatu wewenang menyeluruh artinya suatu wewenang yang tidak dibatasi oleh bidang-bidang kehidupan tertentu. Misalnya bahwa setiap Negara mempunyai wewenang yang menyeluruh atau mutlak untuk mempertahankan kedaulatan wilayahnya. Adalah suatu kenyataan pula kedua wewenang tersebut dapat berproses secara berdampingan, di mana pada situasi-situasi tertentu salah satu bentuk lebih berperan dari pada bentuk lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 722 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: